• Selasa, 6 Desember 2022

Filosofi Wayang Dari Sunan Kalijaga Untuk Indonesia

- Selasa, 22 Februari 2022 | 07:48 WIB
Filosofi wayang dari sunan kalijaga (Beritajowi)
Filosofi wayang dari sunan kalijaga (Beritajowi)

beritajowo.com // jakarta- Wayang adalah seni pertunjukkan tradisional asli Indonesia yang berasal dan berkembang pesat di pulau Jawa dan Bali.

UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan boneka bayangan tersohor dari Indonesia, sebuah Warisan Mahakarya Dunia yang Tak Ternilai dalam Seni Bertutur (bahasa Inggris: Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Wayang sangat digandrungi oleh orang jawa karena filosofi wayang sangat tinggi dalam kehidupan.

Baca Juga: GUS MUS : WAYANG, Ceritanya Penuh Dengan Muatan Ajaran Islam Keikhlasan dan Kemanusiaan

Para Wali Songo di Jawa, sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang Kulit di timur, wayang wong di Jawa Tengah dan wayang golek di Jawa Barat. Adalah Raden Patah dan Sunan Kali Jaga yang berjasa besar. 

Filosofi wayang yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga adalah sebagai berikut :

WAYANG = Wayahe Sembahyang (Waktunya Beribadah)
Dikala itu orang blm mau untuk beribadah (Berbuat Kebaikan).
Maka dibuatlah pertunjukan wayang untuk media Dakwah menyebarkan Islam.

Karena memang Walisongo kala itu menyebarkan agama Islam tidak mau dengan menggunakan kekerasan, dan menghakimi dengan menggunakan dalil-dalil, melainkan dengan kearifan mengikuti kultur Budaya agar mudah diterima oleh masyarakat dan tidak terkesan menggurui dan memaksa.

Maka dibuatlah yang disebut PUNAKAWAN dari Maqolah (???????????????????? '???????????? ???????????????????????????? ???????????????????????? '???????????????? ????????????????????) yang artinya Bergegaslah menuju kebaikan, tinggalkan kejelekan.

Makanya tokoh" Punokawan dinamain SEMAR (Samir), GARENG (Khoirin), PETRUK (Fatruk), BAGONG (Bagho).

Halaman:

Editor: Surayyah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X