• Senin, 24 Januari 2022

Makna Dibalik Permainan di LOmba 17 Agustus

GTG
- Selasa, 24 Juli 2018 | 01:19 WIB
foto: istimewa
foto: istimewa

beritajowo.com / semarang - Hari Kemerdekaan telah tiba! Republik Indonesia tercinta ini kini sudah berusia 72 tahun. Meski semangat kemerdekaan mestinya terus harus berkobar tiap hari, tiap 17 Agustus pastinya semangatnya ekstra membara. Perayaan 17 Agustus tiap tahunnya diisi dengan berbagai tradisi spesial yang diikuti oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Selain upacara bendera, ada serangkaian lomba-lomba khas 17 Agustus yang pastinya pernah kamu ikuti di sekolah atau lingkungan tempat tinggalmu.

Pernah kepikiran nggak sih, kok lomba 17-an itu aneh-aneh yaDari panjat pinang, tarik tambang, sampai lomba makan kerupuk. Kenapa juga nggak lomba lari atau atletik biasa? Sebagaimana dilansir dari Kompas, sejarawan J.J Rizal menjelaskan bahwa perayaan kemerdekaan dengan lomba-lomba unik tersebut mulai bermunculan pada tahun 1950-an. Bukan cuma asal-asalan aja,  tiap lomba 17-an ternyata memiliki sejarah dan filosofi mendalam. Dijelaskan juga bahwa pada umumnya, lomba-lomba itu memang sarat dengan pengaruh penjajah kita yaitu Jepang dan Belanda. Penasaran bagaimana ceritanya?! Yuk simak bareng ulasan spesial Hipwee News & Feature edisi 17 Agustus ini!

1. Panjat pinang, lomba ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Katanya, lomba ini sebenarnya memiliki sejarah kelam. Dulunya jadi semacam atraksi hiburan bagi orang Belanda

-

Meski sejarahnya dulu kelam, sekarang udah jadi kegiatan positif kok! via www.hipwee.com

Berbagai foto lama semasa zaman kolonial Belanda memperlihatkan bahwa permainan seperti panjat pinang yang kita kenal sekarang, sudah ada. Dulunya permainan ini dianggap sebagai hiburan dalam acara-acara penting bagi orang Hindia Belanda seperti pesta pernikahan. Yang seringkali dipermasalahkan adalah bagaimana inti dari acara hiburan tersebut tampaknya merendahkan orang pribumi. Dari foto-foto lama itu terlihat hanya orang-orang pribumi memanjat dan memperebutkan barang-barang seperti celana atau baju, hadiah yang tentunya termasuk barang mewah pada masa itu. Sedangkan orang Belanda tampaknya hanya ‘menikmati’ tontonan tersebut.

Tidak sedikit juga orang yang protes kenapa tradisi kelam itu terus dilestarikan. Tapi di sisi lain, bukankah justru hebat jika bangsa kita bisa mengubah memori kelam jadi sesuatu yang positif? Mungkin saja panjat pinang berawal sebagai sebuah bentuk penjajahan, tapi kini lomba ini malah jadi simbol gotong royong dan semangat pantang menyerah. Semasa Hindia Belanda dulu, orang-orang Belanda mungkin hanya tertawa melihat orang meluncur di tiang bambu yang licin. Tapi lomba panjat pinang sekarang justru jadi semacam pelajaran hidup bahwa kamu tidak akan bisa menang jika mementingkan ego masing-masing.

Lihat saja, meskipun awalnya peserta akan berusaha memanjat tanpa bantuan orang lain, tapi akhirnya mereka harus bekerjasama menjadi tumpuan satu sama lain untuk mencapai puncak. Hadiahnya pun akhirnya sering dibagi-bagi.

2. Balap karung, lomba ini sebenarnya memang seakan-akan mengingatkan kita pada zaman penjajahan Jepang. Karung goni digunakan sebagai pakaian karena rakyat dulu sangat miskin

Halaman:

Editor: GTG

Terkini

Fitur yang Ada di WA Versi Laman atau WhatsApp Web

Minggu, 23 Januari 2022 | 05:23 WIB
X